getting close to your data…

and let them speak…

 

passion

 

Mengajar di kelas bukan hanya menyampaikan isi buku teks kepada mahasiswa.  Kalimat ini berulang kali pernah saya dengar, baik ketika mengikuti workshop-workshop mengenai strategi pembelajaran maupun saat berbincang dengan rekan-rekan pengajar lainnya.  Hal serupa kembali diingatkan oleh tulisan Easterling (2010) di The American Statistician yang saya baca kemarin.

Beliau sangat menekankan perlunya menumbuhkan “passion” pada mahasiswa sehingga selepas dari bangku kuliah pun apa yang kita diskusikan di kelas masih menempel.  Bahkan sangat mungkin gara-gara “passion” tersebut, mereka mampu mengembangkan ke berbagai hal yang lain.  Saya jadi bertanya apakah selama ini saya telah mampu melakukan itu.

Easterling (2010) menyebutkan bahwa salah satu hal penting untuk mampu membuat mahasiswa bergairah belajar statistika adalah adanya “real-life illustration” yang tepat, baik dari sisi konteks kasusnya maupun teknik statistika yang digunakan.  Beliau dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa konteks harus mengawali pemilihan dan penggunaan teknik analisis.  Dalam bahasa lain disebutkan bahwa tindakan tergantung pada apa yang dihadapi.  Pada titik ini, dosen dituntut untuk mampu memilih dengan baik ilustrasi yang digunakan.  Tidak sekedar ada data kemudian dibuat histogram, atau dilakukan uji-t, dan sebagainya.  Ilustrasi yang kurang pas akan menyebabkan “passion” mahasiswa tidak muncul dan berujung pada ungkapan: “Oh ya… saya dulu pernah ambil mata kuliah MetStat… sama sekali gak menarik dan membosankan… masih untung dapat C…”

Eiitt… tentu saja “passion” itu juga harus dimiliki dosennya…

 

No Responses to “passion”

 

Leave a Reply