getting close to your data…

and let them speak…

 

Ilmu peluang untuk hidup sehari-hari

 

Kejadiannya belum lama.  Pertemuan pertama kelas Teori Statistika.  Seperti biasa, ada semacam kontrak perkuliahan yang perlu disepakati antara mahasiswa dan dosen, dan salah satunya adalah toleransi keterlambatan.  Saya buka saja opsinya, dan menyerahkan mahasiswa untuk menentukan.

Di luar dugaan saya, tidak kurang dari 40% mahasiswa tidak dapat menyebutkan berapa menit maksimum toleransi, dan memilih opsi tidak ada batasan waktu terlambat, yang berarti kapanpun masuk, silakan.

Dalam aturan formalnya, IPB hanya memperbolehkan mahasiswa ikut ujian hanya jika mereka hadir setidaknya dalam 80% pertemuan.  Bahasa yang sering saya dengar dari mahasiwa adalah mereka dapat jatah 20% bolos kuliah.

Ketika menentukan batas toleransi keterlambatan, mestinya mereka gunakan ilmu peluang yang sudah mereka peroleh semester lalu.  Saya senang sekali kalau seandainya mereka bisa menghitung suatu nilai yang mencerminkan berapa menit waktu keterlambatan sehingga peluang mereka terlambat lebih dari nilai itu adalah 20% atau 0.2.  Bukankah mereka sudah ratusan kali pergi dari tempat tinggal ke ruang kuliah selama ini?  Bukankah seharusnya di benak mereka tergambar histogram distribusi data waktu perjalanan tersebut?  Bukankah mestinya dengan cepat mereka dapat menduga secara kasar berapa kuantil-80-nya?

Mudah-mudahan ini jadi pelajaran terbaik bagi para mahasiswa bahwa ilmu peluang tidak sekedar dipelajari di kelas, dinyatakan ke-bisa-annya dalam lembar jawaban ujian, dan ditampilkan kemampuannya dalam bentuk nilai di transkrip.  Ilmu peluang dan distribusi data dapat secara tidak sadar digunakan dalam kehidupan sehari-hari agar lebih mudah membuat berbagai keputusan.  Semoga.

 

No Responses to “Ilmu peluang untuk hidup sehari-hari”

 

Leave a Reply